Malang- mLi,Dalam proses pembuatan atau pembangunan jalan Rabat Beton berskala desa, perlu diperhatikan hal- hal yang bersifat kepada teknis. Hal ini tidak boleh diabaikan, karena akan berakibat fatal dan kurangnya kualitas dari hasil rabat beton tersebut.
Sering kita lihat, pembangunan rabat beton disetiap desa rawan rusak sebelum waktu yang seharusnya, ini dikarenakan oleh tatacara dan proses pada saat pembuatan jauh melenceng dari pada juknis yang ada. Sama halnya proyek rabat cor yang berada di Dusun Sukosari rt 02 rw 18, Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jum’at (09/08/2019).
Dari segi matrial pembangunan, untuk adonan baik campuran sama sekali diduga tidak memenuhi sarat yang berkualitas.
Dari keterangan warga sekitar yang namanya enggan disebutkan menjelaskan
“Kami bukannya malah senang ada bantuan di dusun kami mas, karena pengerjaan maupun jenis material yang digunakan saja sudah jelas kelihatan buruk, contoh dari pasirnya yang seharusnya mengunakan pasir hitam, ini malah menggunakan pasir jenis abu fulkanik. Dari hasil cornya sendiri, saat ini sudah banyak yang rusak dan jebol, padahal baru selesai semalam. Trus, semenya saja bukan semen yang biasa digunakan untuk campuran cor kali dibiarkan begini, pastinya pihak kontraktor jelas mendapat untung besar, tapi justru negara yang banyak dibuat rugi”, keluh warga pada wartawan.
Dari hasil invetigasi dilapang, proyek milik cipta karya ini telah ditenderkan ke salah satu CV BETA ALFA yang berkantor di kawasan Kecamatan Poncokusumo.
Saat tim media mencoba bertandang dan hendak konfirmasi secara langsung ke pihak CV, Irwanto selaku pemegang CV tersebut belum dapat dijumpai karena sedang tak berada ditempat. Dijelaskan oleh salah satu karyawan CV yang sedang magang, menyarankan untuk menghubungi David selaku pelaksana proyek, namun David sendiri tidak mengangkat telfon dari tim media.
Terkait kondisi tanah didusun Sukosari juga harus diperhatikan, countur tanah lokasi rencana pembangunan rabat beton, bagaimana ktiteria tanahnya, berpengaruh kepada bentuk desain yang akan dibuat dan alat apa saja yang perlu dipergunakan. Serta material, karena material adalah bahan utama yang diperlukan dam pekerjaan bangunan sipil. Tanpa material yang jelas dak standart, maka bangunan sipil tidak akan pernah bisa dibangun. Baik dan buruknya sebuah bangunan sipil itu tergantung oleh material itu sendiri, selain dari proses adukan.
Material yang digunakan dalam pembangunan rabat beton antara lain Semen, Pasir dan Kerikil. Ketiga material ini sesuai dengan yang ada pada analisa, namun implementasi dilapangan cendrung menggunakan Sirtu (Pasir dan Batu) atau pasir kotor (jenis abu), padahal secara teknik tidak diizinkan karena presentase antara masing- masing pasir dan kerikil dalam sirtu tidak bisa ditentukan dan ini akan berakibat pada campuran takaran semen nantinya.
Dalam menentukan takaran campuran, juga harus melihat kembali analisa yang digunakan pada saat hitungan RA, dalam analisa teknik- teknik terdapat beberapa takaran tergantung analisa, misalnya dalam hitungan/analisa menggunakan K125, maka takarannya 1:3:5, artinya 1 Semen, 3 pasir, dan 5 kerikil. Namun apabila dalam hitungan menggunakan K175, maka takarannya 1:2:3, artinya 1 Semen, 2 Pasir dan 3 Kerikil. Dalam menentukan persentase takaran material yang benar, haruslah menggunakan tong takaran (Dolak), ukuran Dolak ini telah diukur sesuai dengan ukuran 1 Zak semen @40 kg.
Proses pekerjaan
Sebelum proses pengecoran rabat beton harus dilakukan pemasangan papan mal/bekisting samping dan pembubuhan Pasir urug lantai yang ukuran tebal biasanya 5-10 cm tergantung di Desain dan Rab. Untuk menjaga rabat beton agar ketika patah tidak menjalar, maka sebaiknya dipasang mal/bekisting perkapling jarak per 2 m. Sedangkan tata cara adukan material adalah K175, Adukan 1:2:3.
Hingga berita ini diturunkan, tim media sendiri akan mencoba klarifikasi secara langsung dengan pihak Cipta Karya terkait proyek diatas.
(Bersambung)(dwrt)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























