SUMENEP,(Lintasindonesia.co.id) – Pada musim kemarau tahun 2018, angka kekeringan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ada penurunan, dari 37 desa yang mengalami kekeringan ditahun 2017, tahun 2018 kekeringan mencapai 27 Desa. Senin (20/8/2018).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi mengatakan, sebanyak 27 desa yang tersebar di 10 kecamatan itu terdampak kekeringan pada tahun 2018 ini. Dengan perincian sebanyak 17 desa statusnya kering langka dan 10 desa lainnya kering kritis.
Sementara mengingat di musim kemarau 2017 lalu, desa yang terdampak kekeringan sebanyak 37 desa.
“Karena di beberapa desa yang kering langka musim sebelumnya sudah dilakukan pipanisasi,” tandasnya.
Dengan demikian, jika saat ini tidak ada perluasan wilayah yang terdampak kekeringan, dirinya mengaku tidak menutup kemungkinan droping air ke beberapa desa terdampak masih akan terus bertambah.
“Ya, bila kemarau panjang, tidak menutup kemungkinan akan bertambah lagi. Tapi Bukan jumlah desanya, melainkan, jumlah volume pengiriman airnya itu yang bertambah,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterima pihaknya, akhir musim kemarau tahun ini akan terjadi pada bulan September. “Ini cuma prediksi sementara,”jelasnya.
Mantan sekretaris babpeda ini menambahkan, sejauh ini BPBD sudah melakukan droping air bersih ke beberapa daerah terdampak kekeringan, seperti sejumlah desa di Kecamatan Pasongsongan, Batuputih, dan Batang-Batang.
Menurutnya yang paling banyak membutuhkan air bersih adalah daerah Desa Montorna dan Prancak, Kecamatan Pasongsongan. (Yasid)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























