SBB – Media LintasIndonesia.Co.Id
Dengan meninggalnya Wartawan salah satu jurnalis yang juga pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan Media Online Indonesia (MOI) dan Aktivis LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku, Jodih Lumatalale, meninggal (04/01), kemarin.
Membuat polemik khususnya di jajaran Pers Seram Bagian Barat, mereka menilai meninggalnya rekan mereka terjadi dengan hal yang tidak wajar.
Sehingga itu meminta Polres SBB untuk usut hingga tuntas motif meninggalnya seorang Jurnalis tersebut.
Anwar Tiha, yang mewakali rekan – rekan Pers lainya mengungkapkan rasa keraguanya terhadap kematian Jodih akibat diduga serangan jantung yang sempat diberitakan oleh media sebelumnya.
” Saya merasa kurang yakin kalau meninggal rekan kami diakiabatkan serangan jantung, kanapa hingga saat ini, belum ada dianoksa dari dokter setempat yang mengatakan itu, dikarenakan jenaza dari teman kami belum di visum atau belum diotopsi” Pinta Tiha.
Lanjut Tiha ” Kita ketahui bersama bahwa rekan kami semasa hidupnya tidak pernah didengar ada riwayat penyakit seperti Jantung, Darah Tinggi dan lainya.saya tau betul temannya saya yang ia kelukan semasa hidupnya hanyalah penyakit rematik tak ada lain dan Jika dirinya meninggal secara mendadak perlu dilakukan pengecekan motifnya itu apa hingga seperti itu.
Sehingga untuk memastikan meninggalnya diakibatkan apa? , maka perlu diotopsi lebih lanjut, dan diharapkan untuk jajaran Polres SBB dapat membantu untuk ungkap kejelasannya ” Harap Tiha.
Selain itu rekan Jurnalis lainya Morgan Rutumalesy manaruh rasa yang sama bahwa meninggalnya Jodih dengan tindak wajar.
Dan itu dikutip dari dinding facebook-nya: “Dihimbau untuk semua rekan wartawan/wartawati SBB untuk bergerak dan turut menyelidiki kematian Bung Jodih Lumatalele karena ada indikasi kematiannya tidak wajar. Dorong juga mayatnya segera dibawa ke Ambon untuk dilakukan otopsi”.
Morgan juga menulis kronologis kematian Jodih: “Perlu ada keterbukaan dari pihak rumah sakit atas penyebab kematiannya bukan bungkam begitu saja. Menurut keterangan yang dihimpun oleh pihak media, kematian saudara Jodih tidak wajar dan misterius”.
Dirinya menambahkan: “Korban setelah dari Waepirit (Kabupaten Seram Barat.red) sempat mampir di Karaoke Mandarin, dan sempat memesan 8 botol bir. Menurut keterangan dua pramuria yang menemaninya, bir yang telah dituangkan ke dalam gelas, tak sempat diminum oleh korban. Korban hanya nyanyi 5 lagu dan lebih fokus main hp-nya”.
“Kami minta pihak kepolisian segera membantu untuk mengungkapkan misterius kematian saudara Jodih tersebut karena ada indikasi lain dibalik kematian ini. Yang bisa jawab semua ini selain pihak rumah sakit, saksi kuncinya ada pada sopir yang menemani dan mengantarnya,” tulis Morgan.
(AT/DK)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























