Sidoarjo.Mli-Lsm Geber (Gerakan bersama Rakyat) Sidoarjo datangi kantor bupati Dengan hanya berkekuatan tak lebih dari 20 orang, LSM Gerakan Bersama Rakyat (GEBER) Sidoarjo yang dipimpin H Amak Junaedi,mendatangi Pendopo Delta Wibawa, Jumat (28/05/2021) pagi tadi.
Orang-orang berseragam kaos merah dan bermasker dan taati prokes itu berjejer di depan pagar pendopo yang tertutup rapat dan dijaga ketat aparat Satpol PP dan diback-up anggota kepolisian setempat. Melalui spanduk dan poster-poster serta orasi dengan menggunakan megaphone, mereka menyuarakan tuntutannya.
“Intinya, kedatangan kami ini untuk menanyakan janji-janji kampanye Gus Bupati lalu yang menurut kami sampai menjelang 100 hari pemerintahannya ini belum ada gerakan sama sekali,” ujar Amak, Ketua GEBER sekaligus korlap aksi unjukrasa yang pertama kali dilakukan di masa kepemimpinan Muhdlor-Subandi ini.
Diantaranya soal janji melakukan betonisasi semua ruas jalan di wilayah Kabupaten Sidoarjo, juga kelanjutan pembangunan rontage Road untuk mengatasi kemacetan di wilayah Waru sampai Sidoarjo kota serta wacana reformasi birokrasi di lingkungan Pemkab Sidoarjo.
Mereka pertanyakan juga soal realisasi janji BPJS gratis bagi semua warga Sidoarjo. Pun demikian dengan pembukaan lapangan kerja baru bagi 100 ribu penduduk kota delta. Juga pembangunan Rumah Sakit Sidoarjo Barat di wilayah Kecamatan Krian yang makin tak jelas juntrungnya.
“Pokoknya, 17 janji kampanye bupati itu akan kami tanyakan semuanya untuk memastikan apakah dia itu benar-benar bisa merealisasinya atau hanya sekedar janji-janji kosong saja,” imbuh Amak pada awak media.
Setelah hampir 15 menit ‘berteriak-teriak’ di depan pagar, Bupati Sidoarjo pun mengijinkan lima orang perwakilan pengunjukrasa untuk menemuinya. Dan di teras rumah dinasnya, Muhdlor menemui dan berdialog dengan mereka.
Terkait Rumah Sakit Sidoarjo Barat, Muhdlor menjelaskan bahwa proses lelang sudah berjalan dan sudah ditentukan pemenangnya, yakni PT Pembangunan Perumahan (PP). “Tapi sepertinya prosesnya belum bisa jalan karena ada sanggahan,” katanya tanpa menyebut perusahaan jasa kontruksi yang menyanggah keputusan pemenang tender pembangunan senilai Rp 120 Miliar itu.
Sedangkan terkait rencana pembangunan fisik lainnya, diakuinya memang sedikit terhambat. Ia berdalih lebih fokus melakukan perbaikan yang fundamental di internal Pemkab lebih dulu sebelum merealisasi program-program itu.
“AHSP (Analisa Harga Satuan Pekerjaan-red) kita ini amburadul. Contoh saja, di kita harga satu zak semen Rp 85 ribu, sedangkan di Surabaya hanya Rp 52 ribu. Nah, yang gini-gini inilah yang mesti saya bereskan dulu bro,”tuturnya Muhdlor.(zanuar)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























