SBB,LintasIndonesia-Program Presiden Jokowi di sektor peternakan terkait sapi induk wajib bunting (SIWAB) melalui kegiatan bioteknologi peternakan dalam rangka meningkatan produktifitas dan produksi peternakan terutama ternak sapi di Indonesia yang hingga kini telah berjalan di Kabupaten Seram Bagian Barat sejak tahun 2016, namun nyatanya masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat sampai saat ini belum mengetahui dengan baik program tersebut sehingga membuat Yudin Hitimala Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat angkat bicara.
Hitimala yang merupakan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMAPET) Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon tersebut menyatakan bahwa program SIWAB ini merupakan program lansung dari Presiden Jokowi melalui Kementrian Pertanian yang telah berlansung sejak tahun 2016 namun sampai sekarang masyarakat petani peternak di Kabupaten Seram Bagian Barat belum mengetahui dengan jelas keberadaan dan manfaat dari kegiatan tersebut.
Bahkan sebagian besar masyarakat petani peternak akibat keterbatasan pengetahuan dan tidak memiliki pengalaman dalam dunia bioteknologi peternakan membuat sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai petani peternak menolak untuk ternak sapi yang mereka miliki untuk dilakukannya kawin suntik atau inseminasi buatan (IB) oleh para petugas di lapangan.”tandas Hitimala yang merupakan Anggota Fraksi HANURA DPRD Kabupaten SBB tersebut”.
Lanjut Mantan Pengurus Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI) Wilayah Indonesia Timur ini bahwa target Pemerintah Pusat di tahun 2023 nanti Indonesia akan mengekspor produk ternak sapi baik daging maupun susu, sehingga Kabupaten Seram Bagian Barat sebagai sebuah daerah potensial pengembangan peternakan di Provinsi Maluku ini harus bisa memproduksi ternak sapi dalam jumlah yang cukup sehingga Kabupaten kita bisa ikut serta dalam berkontribusi mengekspor daging sapi minimal dapat melakukan ekspor di pasar dalam negeri.
Hitimala yang dikenal luas sebagai aktivis di Bidang Pertanian ini menambahkan bahwa program sapi induk wajib bunting (SIWAB) saat ini sangat penting untuk disosialisasikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Barat kepada masyarakat terutama masyarakat petani peternak. Karena petani peternak di Kabupaten SBB saat ini adalah mayoritas merupakan petani peternak tradisional dengan rata-rata memiliki latar belakang pendidikan adalah tamatan SD.
Lanjut Hitimala, bahwa kondisi pendidikan dan keadaan peternak yang merupakan petani peternak tradisional membuat budaya beterak oleh masyarakat kita sulit untuk menerima penerapan teknologi-teknologi baru dalam dunia peternakan yang berkembang saat ini. Karena budaya beternak secara tradisional dengan sistem pemeliharaan ekstensif yang dilakukan oleh petani peternak di wilayah kita saat ini sudah menjadi kegiatan turun temurun.
Padahal, melalui kegiatan SIWAB ini manfaat positifnya kepada petani peternak kita sangat besar karena produksi ternak yang mereka miliki pasti akan mengalami peningkatan yang dikarenakan interval waktu kawin ternak dan kebuntingan ternak tepat waktu yang tentunya produksi pun akan meningkat. “tandas Hitimala yang merupakan mantan Calon Sekjend BEM Unpatti tersebut”.
Sehingga ketika produksi ternak meningkat maka sudah barang tentu Kabupaten Seram Bagian Barat dapat menuai prestasi di bidang peternakan kerena menjadi salah satu Kabupaten di Indonesia yang dapat menjawab target pemerintah Pusat untuk pada tahun 2023 nantinya Indonesia akan mengekspor produk peternakan, dan tentunya juga pendapatan petani peternak kita akan meningkat dan kesejahteraan keluarga mereka juga akan terwujud.(Anwar Tiha)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























