
Sumenep, Lintasindonesia.co.id- Keluarga pasien yang meninggal dunia di Puskesmas Bluto, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur kini telah mendatangi Kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB), Jum’at, 28 November 2025.
Kedatangan mereka (keluarga korban,red) didampingi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Taretan Legal Justitia.
Pada saat audensi Kepala Dinkes P2KB Sumenep tampak tidak ada diruangan hanya ditemui perwakilan Kepala Bidang Pelayanan Dinkes P2KB yang didampingi oleh dua rekan satu dinas.
Audiensi sempat berjalan alot sempat saling adu argumen dan data antara peserta audiensi dengan pihak Dinkes P2KB. Tetapi, ditengah berjalannya diskusi terdapat beberapa pendapat yang bertolak belakang dengan peserta audiensi dan mengundang emosi para peserta.
Para peserta sempat emosi dan merasa kurang puas dan merasa tidak dihormati karena tidak ditemuai langsung Kepala Dinkes P2KB. Sehingga, memutuskan walk out.
“Pecat Kapus (kepala puskesmas Bluto) dan semua yang terlibat,” kompak teriak peserta audiensi sambil meninggalkan ruangan.
Direktur LBH Taretan Legal Justitia Zainorrozi mengatakan, bahwa audiensi kali ini dilakukan guna untuk mencari kejelasan terkait proses meninggalnya pasien berinisial H.
“Karena tidak ditemui Kepala Dinas keluarga merasa kecewa. Makanya mereka memilih WO,” tegasnya.
Kabid Pelayanan Siti Khairiyah menjelaskan, dari hasil investigasi yang dilakukan bahwa penanganan pasien yang meninggal dunia di Puskesmas Bluto itu telah sesuai standard operasional (SOP).
“Disana sudah dilakukan respon time saat di IGD, artinya pasien sudah dilayani oleh pasien tidak kurang dari 5 menit,” tuturnya.
Mengenai tuntutan agar Kepala Puskesmas Bluto dan petugas yang terlibat dalam penanganan pasien yang meninggal diminta untuk dipecat, pihaknya mengaku diluar kewenangan dirinya. “Ada proses, karena kami PNS,” jelas dia.
Diketahui, salah satu pasien Puskesmas Bluto berinisial H meninggal dunia, pada Senin, 24 November 2025, kemarin. Keluarga korban menduga kematian tersebut diduga akibat kelalaian petugas Puksesmas. Salah satunya, adanya dugaan tabung oksigen kosong saat dilakukan tindakan medis, dan keterlambatan saat proses rujukan. (Yn)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























