Bangka…Lintas indonesia….Sejumlah nelayan dari Lingkungan Nelayan I dan Nelayan II yang berada di Kecamatan Sungailiat, mengeluhkan adanya pendangkalan alur muara nelayan dan adanya aktivitas penambangan kapal isap produksi (KIP) yang berada di dekat dengan bibir muara.
Robi (58) yang berprofesi sebagai yang tinggal di Lingkungan Nelayan I Sungailiat, menginginkan agar para nelayan sewaktu ingin keluar masuk muara itu bebas hambatan tidak ada kendala. Seperti yang terjadi saat ini banyak adanya gundukan pasir yang dihasilkan oleh kapal isap.
“Kita sebenarnya sudah menyampaikan keinginan ini sudah dari 3 tahun yang lalu tapi belum ada respon apapun dari pemerintah. Salah satu permintaan kami sebanyak dua kali ke pemerintah adalah agar dapat mengeruk muara ini sampai bagus,” ujarnya, Minggu (26/1/2020).
Ia bersama nelayan lainnya mengharapkan dengan sungguh-sungguh bukan hanya diberi omongan saja, agar muara ini dikeruk. Menurutnya, para nelayan yang tinggal di Nelayan I dan II sangat berharap sekali agar pengerukan segera dilakukan, dan pihaknya akan menunggu apa yang akan dilakukan oleh pemerintah.
Dan perwakilan nelayan dari Lingkungan Nelayan II Sungailiat, Yusuf (45) juga mengharapkan pemerintah segera melakukan pengerukan muara tersebut, agar tidak lagi mengganggu aktivitas para nelayan. Ia tegaskan dengan adanya KIP yang berada terlalu dekat dengan pantai itu sangat menggangu bagi para nelayan.
” Keberadaan KIP disitu merupakan kendala paling besar bagi nelayan, karena disaat kita pergi melaut posisi kapal isap akan berubah pada saat kita pulang melaut, dan pembuangan pasirnya akan mengakibatkan gundukan yang bisa mencelakakan para nelayan,” tuturnya.
Pihaknya benar-benar meminta tolong kepada pemerintah agar perhatikan para nelayan. Dikatakannya, karena alur muara itulah tempat mereka untuk pergi kelaut mencari kehidupan untuk keluarga. Ia mengharapkan supaya Bupati yang sekarang dapat merespon aspirasi para nelayan.
Sementara itu Hasan (52) Ketua RT 04 Nelayan II mengatakan bahwa sebenarnya posisi alur muara itu ada di dekat lampu mercusuar. Tapi karena adanya faktor alam akhirnya alur muara posisinya berubah cukup jauh dari tempat semula.
“Kalau seandainya ingin dilakukan pengerukan harus dibuat DAM dulu, apakah itu dari batang kelapa atau apapun. Kalau hanya dilakukan pengerukan seperti di muara air kantung, akan percuma saja,” ungkapnya.
Hasan menuturkan jika kondisi muara saat ini diperburuk lagi dengan adanya aktivitas KIP yang berada di dekat dengan bibir muara. Menurutnya itu salah satu yang menyebabkan terjadinya pendangkalan muara selain faktor alam, selain itu dengan adanya aktivitas KIP itu juga mengganggu aktivitas perjalanan para nelayan yang akan pergi maupun pulang dari melaut.
Lebih lanjut ia mengharapkan agar KIP itu beraktivitas paling tidak jaraknya 2 mil dari bibir pantai, bukan seperti yang terjadi sore ini kalau KIP tersebut beraktivitas terlalu dekat dengan bibir muara. Jika seandainya besok KIP itu masih beraktivitas di situ, ia mengaskan jika para nelayan akan turun untuk mengusir KIP tersebut.
“Kami menginginkan agar pemerintah dapat merespon aspirasi para nelayan disini, agar muara ini dapat dikeruk. Dan sebelum dikeruk, sisi pinggir muara nanti harus di DAM dan tanah yang di sepanjang muara harus ditanam dengan tanaman bakau,” tutup Ketua RT 04 Lingkungan Nelayan II.(Anuar)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























