Bangka,Lintas indonesia”04/12/2020″,kapal isap produksi adalah salah satu mitra PT.Timah Tbk,kapal isap kini jadi pertanyaan seluruh masyarakat nelayan matras,saat awak media mendatangi kesalah satu perwakilan nelayan matras
Rudi mengatakan saya sebagai nelayan dan pembina nelayan laut matras menyatakan bahwa zona tangkap di wilayah laut matras di atas 6-7 mil biasanya alat tangkap berupa jaring dan pancing jadi operasinya kip dilaut matras dan tidak mengganggu kami sebagai nelayan
bahkan dengan adanya kip di wilayah laut matras kami merasa terbantu dengan adanya bantuan berupa CSR dan kompensasi
Hanya saja polomik yg ada saat ini terjadi karena masalah dana kompensasi, sebetulnya nelayan di wilayah laut matras tidak keberatan hadirnya kip di laut matras.
Ujar rudi lagi,nelayan takut dan merasa di intimidasi karena perahu mereka berada di area tambatan pihak kontra.
Kami mohon pihak aparat penegak hukum lebih jeli dalam menyikapi masalah ini, polemik skrg ini jangan selalu dibesar-besarkan oleh orang orang yang ngak bertanggung jawab seolah-olah nelayan tidak ada yang melaut dengan adanya aktifitas tsb.
Bahkan nelayan saat ini memasang jaring di seputaran kip dan banyak ikan yg didapat salah satunya ikan bawal. Saya berharap polemik ini disudahi karena kami tau betul kondisi dilapangan…ujar rudi
Kali ini warga lingkungan nelayan 1udin..saat di konfirmasi mengatkan ,Dampak ada nya kip yang beroperasi di wilayah pesisir timur, menurut nya tidak ada dampak sama sekali,karena wilayah operasi KIP atau kapal keruk bukan area tangkap ikan,saat tahun 1960 kapal keruk beroprasi di laut air kantung
Dan saya sangat bersyukur karna adanya kip dan kapal keruk bisa membantu bantuan kompensasi dan csr untuk masyarakat dan nelayan dan saat kita mengajukan proposal ke PT.Timah untuk pengajuan mesin laut dan lain2 sesuai dengan proposal selalu di terima dengan baik oleh PT.Timah
Lanjut udin yang sehari hari nya sebagai nelayan,kami melaut tangkap 30-40 mil,biasa klo mengunakan mesin robin sekitar 15 mil Dan kami berharap PT.Timah selalu membantu nelayan Dan kami juga siap mendukung ada nya kegiatan PT.Timah dan mitra PT.Timah dan saya berharap jangan mengaku ngaku dia nelayan klo emang bukan nelayan dan klo masalah tangkapan ikan itu tergantung musim bukan masalah ada nya penambangan laut…ujar udin
Lanjut dengan warga lingkungan nelayan 2 saudara Duking,saat di konfirmasi Duking mengatakan umur saya udah masuk 57 tahun Dan saya asli benar2 nelayan bukan nelayan mengaku ngaku.
menurut saya tambang laut yang berupa KIP Dan kapal keruk tidak merusak malah menguntukan nelayan,karna bekas lobang KIP dan Kapal keruk tempat tangkap ikan dan cumi karna kebanyakan ikan tersembunyi di lobang lobang
Dan saya sendiri sudah melihat di depan mata saya sendiri,dan seluruh wilayah pesisir timur saya sangat mengetahui dimana wilayah tangkapan ikan..ujar saudara Duking( Syahrul .A)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























