
Sumenep, Lintasindonesia.co.id- Menjamurnya peredaran rokok ilegal di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menjadi perhatian Asosiasi Media Online Kabupaten Sumenep (AMOS).
Bahkan, AMOS saat ini memprotes dengan cara menggelar focus group discussion (FGD) dengan tema “Banyak Warung Jual Rokok Ilegal, Satpol PP Sumenep Bisa Apa?,”.
FGD ini berlangsung di aula tectona, Selasa (01/08/2023). Kegiatan itu juga dihadiri dari beberapa kalangan Aktifis, LSM, Jurnalis dan Mahasiswa.
Hadir sebagai pemateri dalam FGD itu, Kepala Satpol PP Sumemep Moh. Laily Maulidy, Diskoperindag dan UKM Suci, Anggota komisi I DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Hairul Anwar.
Dialog pada kesempatan itu cukup menarik karena banyak peserta yang melayangkan kritik atas maraknya peredaran rokok ilegal. Hal itu terjadi lantaran Satpol PP tidak punya hak melakukan penertiban. Sehingga, anggaran DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) menjadi mubazir dengan sosialisasi yang dilakukan.
Secara ekstrem ada yang menginginkan legalitas rokok “durno”. Yakni, pita rokok tanpa cukai itu langsung dilegalkan, dengan Judical review UU yang kemudian ditopang dengan pembuatan peraturan daerah (perda). Sehingga, negara juga dalam konteks kabupaten bisa diuntungkan dengan pendapatan daerah.
Fakta-fakta itu dijelaskan terperinci oleh Kasatpol PP mulai dari regulasi hingga kewenangannya. Di jug menjabarkan sosialisasi yang dilakukan. Masing-masing pemateri memberikan gagasan dan idenya berkaitan dengan rokok ilegal ini dan peredarannya di Kabupaten Sumenep.
Ketua AMOS Junaidi menjelaskan, pihaknya sengaja menggelar FGD sebagai sosial kontrol atas maraknya peredaran rokok tanpa cukai di Kabupaten Sumenep. Dan, satpol PP sebagai lembaga yang diberikan kewenangan penegakan hukum maka perlu dipertanyakan kinerjanya.
“Alhamdulillah, diskusi kita berjalan cukup alot dan dialogis. Cukup mencerahkan,” katanya.
Pihaknya memastikan masih akan menggelar FGD lanjutan dengan tema yang sama tentang rokok ilegal. “Karena tadi ada permintaan dihadirkan bea cukai dan pengusaha rokok, maka pada FGF berikutnya, akan kami undang untuk berdialog dengan teman-tema,” tutupnya. (Ys)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























