Hadir dalam kegiatan, Bupati OKU diwakili Sekda OKU Dr Drs H Ahcmad Tarmizi, Kapolres OKU diwakili, Dandim 0403/OKU diwakili, Kadin Pendidikan OKU, Direktur Akmi, Kajari OKU, Ketua PN Baturaja, Kepala Kemenag OKU, Unsur Muspida OKU, Ibu wakil ketua tim penggerak PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta seluruh Kepala Sekolah dan guru dari tingkat TK, SD, SMP sampai SMA/SMK se- OKU.
Sebagai pengisi materi Pemkab OKU mengundang narasumber dari Jakarta langsung, Yudi Latif Pakar Hukum Tata Negara dan Pengamat Politik. Juga tak kalah pentingnya turut mengundang Sofian Saleh pencipta lagu Guruku Sayang putra dari Saleh Hasan mantan Bupati pertama di OKU.
Kata sambutan diawali Paranto SE. MM Kepala Dinas Pendidikan OKU, yang menyampaikan ,”Penguatan didikan akhlak mulia serta rasa cinta tanah air berdasarkan Pancasila. Tujuan kegiatan untuk meningkatkan wawasan bagaimana guru profesional menemukan sosok guru yang ideal menerapkan model dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan pendidikan. Menciptakan suasana pembelajaran di kelas yang menyenangkan dan implementasi karakter. Adapun peserta kegiatan ini berjumlah 860 orang yang terdiri dari Guru TK, SD, SMP, SMA dan SMK, dalam Kabupaten OKU ,”kata Paranto.
Selanjutnya, Bupati OKU diwakili Sekda OKU Dr Drs H Achmad Tarmizi, sebagai pembuka acara menyampaikan sambutannya ,”Kata Guru berdasarkan bahasa sangseketa dibagi dalam 2 suku kata, Gu dan Ru, Gu adalah kegelapan dan Ru itu pendobrak artinya guru pendobrak kegelapan. Jika guru di ibaratkan dengan lampu yang tempatnya selalu berada diatas tempat yang tinggi agar bisa menerangi. Oleh karenanya seorang guru yang baik harkat dan martabatnya maupun penghasilannya harus ditempatkan ditempat yang tertinggi di Republik ini ,”paparnya.

Poto bersama Sofian Saleh dengan Sekda OKU beserta guru dan unsur muspida yang hadir
“Saya berharap kepada semua para guru untuk terus mendidik generasi melenial yang ada saat ini, agar kedepannya bisa menghasilkan murid yang berpotensi untuk mengisi tongkat eskapet kepimimpinan di OKU lebih baik lagi. Sedangkan dalam menghadapi penerapatan sistem pendidikan yang harus diselaraskan dengan tantangan baik secara global walau pendidikan nasional sudah pasti dituntut untuk mampu meng implementasikan seluruh kurikulum yang ada dengan perkembangan teknologi ,”ungkap Achmad Tarmizi, PNS no 1 di OKU yang mengawali kariernya dari menjadi seorang guru honorer.
Sementara kekompakan paduan suara puluhan siswa-siswi murid dari SMA Negeri 5 OKU yang mampu mengheningkan suasana sejenak dengan yanyian lagu berjudul “Guruku Sayang”. Dilanjutkan dengan berkolaborasi bersama pencipta lagunya langsung Sofian Saleh yang ikut memeriahkan acara. Pada kesempatan itu Sofian Saleh juga menyampaikan motivasi kepada siswa-siswi untuk terus rajin belajar dan berkreasi sehingga bisa menghasilkan hal yang berguna baik untuk diri sendiri maupun orang lain ,”tutur pria asli Putra daerah OKU yang sedang berjuang mengikuti mencalonkan diri dipemilihan DPR RI pada April 2019 mendatang, wilayah Dapil 2 Provinsi Sumsel.
Sedangkan Yudi Latif Pakar Hukum Tata Negara dan Pengamat Politik yang juga dikenal penulis dari beberapa buku yang telah diterbitkannya, diantaranya buku berjudul Negara Paripurna. Selaku narasumber dalam kegiatan Yudi mengungkapkan hal yang senada dengan Achmad Tarmizi, yaitu tugas guru adalah membawa gelap menuju terang. Selama masih ada semangat dari kaum guru mudah-mudahan indonesia akan tetap bisa meraih harapan dimasa yang akan datang. Adapun problem pendidikan di indonesia yang ada, disatu sisi didapati pelajaran yang bersipat skornya rendah seperti pelajaran matematika atau fisika tapi pada saat yang sama juga sering menghadapi masalah-masalah yang menyangkut solidaritas sosial.
“Yang sesuatu tadinya berbeda dan menurut kita biasa tapi sekarang menimbulkan pertikaian yang tidak ada habisnya. Nah kalau daya ingat sosial ini rendah seperti daya ikat tanah yang merenggang dengan satu tsunami sosial terjadi bisa saja beberapa titik ikut amblas secara sosial. Oleh karena itu selain kita ingin mengembangkan pembelajaran dibidang matematika atau fisika ya harus lebih baik, yang tidak kalah pentingnya adalah yang namanya mengajarkan kecakapan keluargaan supaya anak didik punya kemampuan untuk bekerja sama dan respek terhadap yang lain, menghargai perbedaan, mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga negara, menyadari konsensus-konsensus yang harus dipatuhi. Namun pendidikan yang ada selama ini sering kita dapati kebanyakan sekolah kita terlalu menekankan pendidikan itu hanya soal pengetahuan tertentu, biasanya hanya pengetahuan matematika, fisika atau kimia dan lainnya. Itu biasanya yang menjadi pusat perhatian pendidikan hanya sebagai cara untuk sebatas mengetahui belaka ,”jelas Yudi.
Lebih dalam disampaikannya ,”Padahal pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya. Dengan belajar dari kehidupan sepanjang hayat jadi seluruh dimensi kemanusiaan ini bukan hanya mengajari orang yang pintar matematika saja dan lainnya. Tapi mengajari seluruh totalitas, pikiran, semuanya harus menjadi rana pendidikan. Jadi pendidikan itu bukan hanya mengajar anak-anak untuk tahu semata melainkan anak-anak juga harus tau tentang kepekaan, perasaan, dan punya etika, sosial, mengembangkan kehidupan yang damai, punya kesusilaan yang baik karena selama ini pendidikan kita sering mementingkan mata pelajaran yang berkaitan dengan nilai kelulusan saja. Sementara pendidikan nilai Etika Budi Pekerti, PPKN dan pelajaran Pancasila dianggap tidak penting karena tidak menentukan pada nilai kelulusan ujian nasional ,”terang Yudi Latif. (Hand/Af)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























