Ambon,Lintasindonesia-Viralnya Nama Anggota DPRD Kabupaten SBB, Fraksi PDI Perjuangan Jodis Rumasoal di media sosial akhir-akhir ini cukup menyita perhatian para netizen di Maluku. Dibalik viral Rumasoal dalam membantu orang lain yang dianggap perlu untuk dibantu mendapat apresiasi dari semua kalangan.
Anggota DPRD Kabupaten SBB dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut memiliki Kisah pahit yang selama ini tersembunyi. Hal ini terkuak ketika diceritakan oleh salah satu gurunya Bartazar Lumatalale Kepala Sekolah SD YPPK Neniari, Kecamatan Taniwel.
Menurut sang guru, usai Tamat SMA Rumasoal kembali ke kampung halaman di hutan pegunungan seram, Desa Neniari, Kecamatan Taniwel untuk membantu orang tuanya sebagai petani Salak Merah, membangun 4 buah tambak ikan air tawar, mencari cengkeh hutan, pala hutan dan damar (getah agatis) untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Anggota TNI atau Polri.
Tetapi nasib berkata lain, cita-cita awal tidak terwujud maka, akhirnya Pria kelahiran 13 Desember 1993 melanjutkan studi dengan mengikuti seleksi sebagai mahasiswa pada Universitas Pattimura, Fakultas Hukum Tahun 2013. Dari seleksi tersebut Rumasoal mendapat peringat ke-2 dari 90 peserta.
Keberhasilan Jodis Rumahsoal dalam seleksi mahasiswa Hukum Unpatti harus dibayar dengan menjual satu buah kolam ikan air tawar yang berisi ikan nila dan ikan mas seharga 3 juta rupiah sebagai modal masuk perguruan tinggi.
Aktif sebagai mahasiswa rumasoal tinggal kos-kosan bersama Dua orang saudara kandungnya yang saat itu juga sementara berkuliah. Mereka selalu berpindah kos-kosan dan hidup mandiri selama merantau jauh dari orang tua.
“Beta masih ingat, kalau seng ada uang ke kampus, biasanya jodis sudah bangun pagi untuk mengikuti orang lain bekerja, angkat pasir dan batu membantu tukang dalam menyelesaikan pembangunan rumah warga, kalau orang tua terlambat kirim uang kadang jodis dan ke 2 saudaranya harus menahan lapar dan pergi ke kampus dengan berjalan kaki.” Papar Lumatalale dengan dialek ambon.
Lanjut Lumatalale, jika orang bilang Jodis bantu orang lain tidak pandang buluh. Maka itu patut dilakukan karena apa yang dialaminya dulu, menjadi inspirasi ketika sekarang telah menjadi anggota DPRD SBB.
“Sampai hari ini, jika ke Ambon Jodis tidak pernah tinggal dihotel mewah, Ia lebih senang tinggal dengan saudara-saudara sekampung yang sementara menuntut ilmu menjadi mahasiswa di kos-kosan mereka. Dia tidak pernah lupa orang-orang yang dulu membantunya, dan dia tidak akan lupa bahwa pernah menangis karena lapar, bahkan menulis surat dengan bercucuran air mata kepada kedua orang tuanya dan ingin berhenti kuliah karena tidak sanggup lagi hidup di rantau.” Kata sang guru.(AT)
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























