SBB, Lintasindonesia- Anggota, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), sekaligus sebagai Anak Adat Negeri Neniari Gunung, Jodis Rumahsoal, mempertanyakan kira-kira kapan status jalan Riring-Neniari dibuka ?.
“Kami merasa kecewa, lalu kira-kira kalau tidak ada pembebasan lalu kapan status jalan Riring-Neniari dibuka demi kepentingan masyarakat Negeri Neniari,” kata Jodis, kepada media ini, belum lama ini.
Jodis mengatakan, kita sebagai anak adat bukan biadab, harga diri dipertarungkan hingga sampai titik darah penghabisan, hutan lindung dalam bentuk apapun dicabut dari petuanan yang merupakan hak Ulayat Negeri Neniari karena tidak menghargai hak-hak Ulayat adat dan masyarakat negeri Neniari gunung Kec Taniwel Kab SBB Provinsi Maluku terkait status jalan Riring-Neniari.
Kehadiran negara dalam kebijakan hutan lindung dalam wilayah negeri-negeri adat yang merupakan kampung – kampung di daerah pegunungan harus diprioritas untuk dibebaskan demi jalan dan pelayanan lainnya.
“Saya mengecekan langsung ke beberapa instansi terkait persoalan status jalan Riring- Neniari ternyata semua beralasan yang sama terkait kawasan hutan lindung atau HPL,” ujarnya.
Bahkan, menurut Jodis, seluruh wilayah di daerah pegunungan termasuk negeri Manusa yang termasuk dalam hutan lindung atau HPL juga dibebaskan tetapi menjadi pertanyaan kenapa Negeri Neniari tidak diberikan ijin untuk dibebaskan dengan tujuan atas alasan-alasan yang dimaksud.
“Kami akan mempertanyakan persoalan ini ke Bupati Seram Bagian Barat (SBB) dan Gubernur Maluku terkait status dan legitimasi negeri Neniari Gunung Kecamatan Taniwel Kab SBB,” tuturnya.
Ditambahkan, kami melakukan inisiatif dan meminta pertanggung jawaban daerah terhadap persoalan ini, dalam waktu dekat kami akan menyurati 16 Negeri adik KK dan lembaga adat untuk menyikapi persoalan tersebut karena sudah melangkahi hak2 masyarakat adat.
“Kami merasa kecewa kira – kira kalau tidak ada pembebasan lalu kapan status jalan Riring – Neniari di buka demi kepentingan masyarakat negeri Neniari, yang selama ini melakukan perjalanan kaki dengan memikul beban sehingga tidak ada pri kemanusiaan.”Neniari selama 73 tahun belum merasakan kemerdekaan RI” Save negeri tua (Hena nyai),” tukas Jodis. (AT).
Media Lintas Indonesia Harapan dan Aspirasi Rakyat



























